Mungkin Anda merasa tubuh Anda sakit, bahkan mungkin Anda sedang mengalaminya.

Atau anak Anda sakit, baik itu sakit fisik maupun gangguan emosi dan atau perkembangan tidak senormal yang lain.

Atau Anda sedang bermasalah dengan pasangan, hubungan yang buruk, perpisahan, atau bahkan perceraian.

Atau mungkin, keuangan Anda membuat Anda ingin menangis saking kosongnya dompet sementara makan mesti tiap hari.

Hari ini, sekarang, bersyukurlah sebab Anda masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membaca tulisan ini yang akan menjelaskan rahasia bahasa pikiran.

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Sekarang duduk yang tenang, atur nafas, matikan TV agar memberi kesempatan pikiran hanya menerima informasi dari tulisan ini, tidak yang lain.

Saya ingin menjelaskan kepada Anda berdasarkan pengalaman menangani klien, sebab-sebab diatas adalah karena selftalk diri sendiri.

Paling baru adalah anak gadis yang divonis mengalami OCD (Obsessive Compulsive Disorder) oleh dokter dan diterima oleh ibunya.

Kepada ibunya saya bilang bahwa anak seperti itu adalah hasil keputusan ibu. Ibu menginginkan anak Ibu sakit sehingga punya alasan untuk menyalahkan mantan suami “gara-gara kamu, dia sakit”.

Jadi sebabnya adalah kemarahan ibu kepada mantan dan tak sadar “ingin anak sakit” sehingga punya alasan memarahi mantan, untuk melampiaskan kemarahan kepuasan mantan.

Dia tak menyangkal, bahkan mengakui ada kemarahan kepada mantan dan karena anak sakit inilah dia punya alasan untuk mengatakan “rasain gara-gara sikap kamu, dia jadi sakit!”

Saya tak ingin cerita tentang “sakit” anaknya, tapi bagaimana selftalk sang ibu benar-benar mengkreasikan kenyataan yang menimpa anaknya.

Ini juga mirip dengan kasus yang pernah saya tangani dulu, kisah lelaki dewasa yang divonis skizofrenia, ternyata hasil dari selftalk ibunya.

Ibunya berkata setelah kepergian suami, “bila suami tak ada, saya tak sanggup mengurus anak.” Berulang-ulang diucapkan dalam pikiran.

Benar saja, anaknya sering “gila” hingga dibawa ke rumah sakit dan mendapat klaim “skizofrenia” plus obat-obat yang mesti dikonsumsi.

Kemudian….

Saya ingat sewaktu SMP dulu dimana sebagai anak yatim sering mendapatkan kupon sembako murah bahkan gratis.

Saya tinggal bersama ibu di sebuah rumah kontrakan tua bersama orang-orang yang belum mapan lainnya.

Salah seorang tetangga -suatu hari- bercerita tentang pembagian zakat sebuah perusahaan dan mengatakan, “mestinya kita juga dapat karena kita kan berhak.”

Lalu di hari berbeda, seorang tetangga mengatakan, “kita kan fakir miskin jadi berhak mendapatkan kupon sembako gratis.”

Sekian puluh tahun berlalu, saya menyaksikan tetangga itu tak beranjak kehidupannya masih berstatus belum mapan hingga sekarang.

Atau kisah lain…

Seorang ibu yang telah malang melintang dalam bisnis, mulai dari rumah hingga melanglang buana ke Nusantara. Semua menghasilkan kerugian yang tak sedikit, entah berapa milyar bila ditotalkan.

Tak sadar, dia sering mengatakan kepada dirinya, “hidup itu mesti sabar, hidup itu ujian.” Ternyata dia mendapatkan apa yang diucapkannya. Bersabar dengan ujian hidupnya.

Ada lagi, seorang kenalan saya menyekolahkan anaknya ke sekolah milik yayasan, gratis. Syaratnya adalah tidak punya rumah, sedangkan kenalan saya ini punya rumah.

Ternyata dia mengaku tak punya rumah saat diwawancarai, dan beberapa waktu kemudian… Rumahnya disita karena bisnisnya rugi.

Dia mengalami apa yang dia ucapkan, tak punya rumah, hingga sekarang bertahun-tahun kemudian.

Seseorang wanita yang sering mengatakan, “tak ada yang sayang kepadaku.” Benar-benar mengalami apa yang ia ucapkan.

Suaminya pejabat BUMN memiliki banyak “selir” dan mengabaikan dirinya. Anaknya kuliah di luar negeri tak pernah menelpon menanyakan kabar, selalu dia yang mulai.

Dia “memilih” sakit agar mendapat perhatian, agar ada yang sayang. Saking bila sehat menganggap tak ada yang peduli.

Sekarang dia mengidap beragam penyakit, komplikasi. Perhatian tak didapat, sakitnya dapat.

Jadi sekarang sadarilah, apa selftalk yang telah Anda ucapkan sehingga hidup Anda seperti sekarang?

Mungkin Anda bertanya, bagaimana mengenali selftalk sendiri?

-bersambung-

Ahmad Sofyan Hadi


2 Comments

fitlawati · July 9, 2019 at 6:58 am

Member

    purnami · July 19, 2019 at 2:55 pm

    ingin menghilangkan pikiran tidak positif

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.