Ada target yang tidak tercapai lalu kita merasa sedih.

Baca status orang lain bisa mewujudkan impiannya lalu kita menjadi iri.

Ingat dengan “perjuangan” yang hebat di masa lalu, tapi hasilnya nihil lalu kita meratapi diri sendiri.

Semua itu tak lepas dari prasangka sendiri. Mari kita perjelas.

Sedih bermula dari penilaian bahwa diri sendiri tidak mencapai target yang diinginkan, setidaknya ada dua hal disini.

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Pertama persepsi bahwa target itu adalah “milik saya” atau “saya berhak atas target itu”. Kedua, “nilai saya (akan) berkurang saat tidak mencapai target itu”.

Ada pun iri sebenarnya adalah rasa tak nyaman saat melihat orang lain sukses. Ini juga berawal dari persepsi “aku berhak atas kesuksesan dia!” Kemudian memvonis, “aku (akan) bahagia bila mendapatkan kesuksesan dia!”

Lalu meratapi diri sendiri adalah sebuah vonis bahwa “aku kalah” atau “aku tak berharga” atau “aku telah hancur” hanya karena tidak mendapatkan apa yang direncanakan.

Sekarang dimana hubungannya dengan PRASANGKA?

Ambil contoh rasa sedih.

Kenapa sedih? Karena gagal mewujudkan impian.

Apa hubungannya sedih dengan gagal mewujudkan impian?

Sebab dengan gagal mewujudkan impian, maka hidupku (bakal) tidak bahagia, (bakal) susah kelak.

Perhatikan, dia mempersepsikan (nilai) bahagianya pasti berkurang karena tidak berhasil mewujudkan impian.

Andaikan dia tetap bahagia (nilai tidak berkurang), rasa sedih tak akan muncul. Pertanyaanya, kenapa memutuskan bahagia pasti hilang?

Sebab MEMPRASANGKAKAN masa depan sudah pasti (tidak bahagia) sesuai logika dia sendiri.

Pun iri, berangkat dari persepsi “aku akan bahagia bila mendapatkan apa yang ia dapatkan.” Lagi-lagi memprediksi masa depan (akan bahagia) dengan logika sebab akibatnya sendiri.

Termasuk meratapi diri sendiri, sebab memvonis “aku (akan) hancur” adalah PRASANGKA bahwa di masa depan ia akan hancur karena tidak mencapai keinginannya.

Dengan kata lain, sebenarnya semua perasaan negatif bermula dari PRASANGKA yang diciptakan pikiran sendiri.

Itu sebabnya perasaan sedih adalah KEPUTUSAN untuk menjadi sedih sebab MEMILIH prasangka (akan) tidak bahagia kelak. Padahal tersedia opsi-opsi prasangka lain.

Contoh, “walau pun aku tidak berhasil mewujudkan impian, tapi aku yakin hidupku baik selalu (di masa depan).”

Atau, “walaupun teman sudah umroh dan kebeli rumah seharga milyaran, tapi aku memutuskan tetap bahagia (di masa depan) dengan apa yang aku miliki.”

Pun, “walau pun aku gagal berulang kali di masa lalu, tapi aku berhasil karena tetap hidup sampai hari ini dengan bahagia.”

Beda kan rasanya?

Jadi memilih prasangka adalah keterampilan yang perlu dilatih. Sebab salah menempatkan prasangka, bukan masalah sukses atau gagal dalam hidup, tapi surga neraka di akhirat.

Sama seperti memprasangkakan orang yang mengingatkan kebaikan (para nabi) sebagai pembohong, penyebar hoaks, perusuh, pengacau, sumber disintegrasi, atau tukang sihir, berakhir dengan ancaman siksa neraka.

Sekali lagi, berlatihlah memprasangkakan kebaikan. Tanpa dilatih, Anda akan canggung untuk berprasangka baik.

Caranya, pelajari kitab suci Anda, mulailah dari sana. Sebab penguasa masa depan adalah Tuhan yang juga menurunkan kitab suci. Belajarlah kepadaNya.

Wallahu’alam


2 Comments

Wiana trisia · June 1, 2019 at 11:28 pm

Bagaimana cara keluar dri prasangka

    Ahmad Sofyan Hadi · June 4, 2019 at 5:46 am

    Bayangkan hal yang dipasangkan, lalu hooponopono sampai merasa lega.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.