“Saya pernah mendapatkan penghasilan Rp 200 juta sebulan, tapi itu dibayar dengan kesibukan yang sangat luar biasa.

Saya tak sempat bermain dengan anak-anak saat mereka masih kecil. Sekarang anak-anak sudah besar, sudah punya dunia sendiri.

Rasanya sedih melihat orang lain bisa bermain dengan anak-anaknya lalu memajang fotonya di facebook.”

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Saya mendengarkannya sekilas, tapi menangkap maknanya: bahwa uang akan habis sama seperti masa kanak-kanak, akan berakhir.

Tapi, rasa bahagia karena pernah menemani anak bermain dulu, jauh lebih tinggi dibanding rasa bahagia karena pernah mendapatkan penghasilan tinggi dulu.

Ujung-ujung tetap sama: baik anak yang ditemani uang/mainan semasa pertumbuhannya, maupun anak yang ditemani kehadiran ayah, sama-sama akan tumbuh besar menjadi dirinya sendiri, memasuki dunianya sendiri.

Kenangannya itu yang beda!

Disinilah saya banyak belajar dari Bapak peserta seminar Analisa Tanda Tangan ini.

Betapa kebahagiaan seorang ayah saat membersamai pertumbuhan anak, bermain riang, berfoto bersama, adalah kekayaan yang jauh lebih berharga dibandingkan penghasilan ratusan juta.

Tapi tentu saja, tidak berarti penghasilan tidak penting. Pointnya adalah KESEIMBANGAN.

Tentang keseimbangan, saya pun belajar banyak dari ibu yang menunjukkan foto tanda tangan anaknya.

Sekarang anak itu sudah dewasa, tapi dari tanda tangannya saya menemukan kesedihan yang dipendam.

Ibu itu tidak tahu kenapa anaknya memendam kesedihan, hanya bilang “waktu kecil sering ditinggal”.

Tidak tahu perasaan anak, apa yang anak rasakan, apa yang anak harapkan, atau apa yang anak takutkan, selalu saja artinya tidak tahu cara mengisi hati anak dengan tepat.

Bayangkan ada sebuah mangkok di atas meja, lalu Anda ingin menuangkan sayur dengan mata tertutup.

Seberapa mampu mangkok “menerima” sayur yang Anda tuangkan dengan tepat? Lalu saat banyak sayur yang tumpah, apakah Anda akan memvonis mangkuk “tak tahu diri, membangkang, dan egois”?

Tulisan ini bukanlah untuk menyalahkan apalagi menghakimi. Melainkan untuk memperbaiki.

Saat anak bermasalah, seringkali yang kami terapi adalah… Ibunya. Anak balita sering tantrum, ibunya diterapi dan tantrum anaknya hilang.

Anak remaja sering memukul temannya hingga 3x pindah pesantren, yang diterapi ibunya dan anak menjadi penghafal Qur’an dengan baik.

Anak gadis sering kabur dari rumah berhari-hari, ibunya diterapi dan anak jadi dekat dan patuh dengan ibunya.

Kok bisa? Sebab solusinya adalah “tuangkan sayur dengan mata terbuka” sehingga bisa menciptakan KESEIMBANGAN antara HARAPAN sayur yang tertuang di mangkok dengan KAPASITAS mangkok.

Ibu bisa menempatkan hati dan pikiran sesuai kapasitas hati dan pikiran anak. Anak mendapatkan perlakuan yang paling diinginkan.

Tapi, mencegah tetap saja lebih baik daripada memperbaiki. Terapi adalah cara memperbaiki, tapi menemani anak sejak kecil adalah cara mencegah “menuangkan sayur dengan mata tertutup”

Apalagi zaman sekarang, anak menjadi “buruan” banyak pihak. Tidak bisa sekedar “memberi makan dan sekolahan”.

Anak butuh perlindungan dari para pemangsa yang tidak berniat, tapi ikut memangsa saat ada kesempatan.

Saya tak perlu cerita kan dengan anak gadis yang mengalami pelecehan “xyz” dari orang terdekatnya dan dia merahasiakannya hingga saya terapi di usia 50 tahun?

Wallahu’alam.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.